Salah satu bentuk keberhasilan yang dilakukan dalam proses mendakwah adalah ketika apa yang disampaikan oleh seorang pendakwah bisa diterima dan menjadikan pencerahan terhadap objek dakwahan. Sebagai contoh ketika pada zaman jahiliah sebelum nabi Muhammad SAW menyampaikan wahyu pertama sampai pada hampir seluruh umat di Makkah dan Madinah memeluk Islam ada terdapat kekacauan yang itu bisa disebut sebagai masalah yang hampir tidak bisa diatasi tanpa turunnya wahyu kepada nabi Muhammad SAW sebagai cahaya petunjuk. Strategi itu pun bisa kita gunakan di masa sekarang, di mana masalah kompleks yang menyelimuti seluruh lapisan masyarakat di bumi ini khususnya di Indonesia sangat membutuhkan suatu petunjuk yang mengarahkan pada sebuah tatanan kesejarteraan rohani. Sehingga ketika nilai-nilai Islam itu dimasukan dengan cara yang mampu untuk mengobati penyakit hati, ranah spiritualitas akan terbangun dengan baik.
Disampaikan dalam buku Psikoterapi Pendekatan Konvensional dan Kontemporer, bahwa kesadaran merupakan kontak yang waspada tentang peristiwa penting di dalam diri individu ataupun dalam interaksinya dengan lingkungan. Ia akan menggunakan sensorimotor, emosi, kognitif, dan dukungannya dengan penuh energi (Yontef, 1976). Kesadaran yang berlangsung terus menerus tanpa interupsi akan mengarah pada pengertian seketika tentang hubungan antara peristiwa satu dengan yang lain secara utuh. Keseluruhan yang baru dan bermakna diciptakan melalui kontak kesadaran, sehingga kesadaran itu sendiri merupakan kesatuan suatu masalah.
Sebagai contoh, seseorang yang sedang mengalami kesedihan yang dalam setelah ditinggal mati seorang yang dicintainya, ia merasakan satu pengalaman dan pengalaman lainnya tanpa menyadari apa yang terjadi sesungguhnya dengan dirinya. Apabila ada orang yang menegur akan keadaanya yang tegang terus menerus ia langsung marah atau menangis. Ia sering berpikir negatif bahwa orang tidak akan pernah mengerti akan apa yang dialaminya. Bahkan tidak jarang ia ingin mati saja. Ia tidak pernah berpikir bahwa apa yang dialaminya ini berhubungan dengan kematian orang yang dicintainya karena pada waktu penguburan pun ia tidak menangis dan tetap tabah.
Dengan bantuan pendekatan Islam, ia akan mulai menyadari kaitan pengalaman yang satu dengan lainnya melalui kesadaran terus menerus akan apa yang dialaminya saat ini dan di sini. Untuk mengerti tuntunan-tuntunan Islam dibutuhkan pengertian mengenai kesadaran dengan dalil-dalilnya. Kadang-kadang orang tidak menyadari seutuhnya apa yang dialaminya. Seperti seorang yang sering memikirkan tentang situasinya saat ini tanpa mengerti ataupun merasakan perasaannya, ia hanya mengemukakan apa yang dapat diterima akalnya tanpa menyadari apa yang dirasakannya. Atau seseorang yang sering mengekspresikan emosinya melalui keluhan-keluhan fisiknya tanpa mengerti apa kaitan antara emosi yang ditekan maupun keluhan fisik yang sering dilontarkannya. Bentuk-bentuk pengertian kesadaran seperti ini adalah paradigma masyarakat yang sebenarnya tidak lengkap dan bukan yang dimaksud dalam pendekatan Islam.
Ketika marah, takut, kacau, atau munculnya perasaan berdosa, penting memahami perasaan dan berusaha menemukan sebab-sebabnya yang tersembunyi maupun yang tidak. Memproyeksikan masalah personal dan tindakan yang salah terhadap orang lain hanya akan menambah masalah dan menciptakan kendala-kendala baru. Motif-motif seringkali tersembunyi secara mendalam dari kesadaran yang sadar.
Menelusuri jejak-jejak motif yang tidak disadari dan mampu berhubungan dengannya secara konstruktif tanpa trauma emosional, konseli juga akan memerlukan kearifan dan bantuan tuntunan Islam dari konselor. Selama teknik menyisipkan nilai-nilai Islam ini dapat membuktikan pendekatan langsung dan berguna lalu konselor melaksanakan program seperti itu secara konsisten, banyak kemanfaatan diri dapat diraih.
Lihatlah di dalam pikiran kita sendiri – bidang personal kesadaran kita – untuk memahami. Ketekunan dan kurangnya ketekunan yang membedakan antara keberhasilan dan kegagalan. Jika kita meneruskan pencarian, kita akan menemukan jalan menuju pemecahan persoalan yang rumit sekalipun, dan ketika konselor berhasil dalam menciptakan hubungan ini, konselor akan mengetahui kebenaran – kehidupan adalah kesatuan. Kemudian konselor akan memahami mengapa pengabdian kepada kemanusiaan dan seluruh kehidupan adalah kunci yang membukakan pintu keislaman. Kita tidak dapat mengabdikan hidup kita jika saja kepentingan pribadi yang buruk terlalu dikedepankan, karena ini merupakan sebuah penolakan terhadap kesatuan dasar wujud.
Ketika kita meminta pemahaman dan bimbingan dari keluhuran nilai-nilai Islam, bantuan diberikan, namun terdapat syarat kelangsungannya. Ketika kita mencapai pemahaman, seorang konselor harus menjadi saluran bantuan kepada orang lain. Maka dari situ muncullah hubungan yang saling memenuhi nilai spiritualitas antara konselor dan konseli. [Sahabat Noval Irmawan]

0 komentar:
Posting Komentar