Pertanyaan yang terbesit dalam benak saya sesaat mendenganr beberapa mahasiswa membincangkan keberadaan PMII di kampus Islam tidaklah memiliki guna apapun, Keberadaan PMII hanya membuat mahasiswa pragmatis, dan bermental politik praktis berwatak birokrat, bahkan ada juga yang mengatakan tidak berdampak apapun terhadap anggotanya. Namun, apakah benar demikian? Atau apakah kemudian keberadaan PMII di kampus Islam justru menjadi pewarna yang amat pekat dalam kehidupan intelektual dikampus?
17April1960, sebuah titik awal berdirinya organisasi mahasiswa dengan jumlah anggota terbanyak. Keberadaannya selalu mendominasi kampus kampus berbasis islam. Sederhana saja, dengan berbekal kedekatan kepada kaum nahdliyin, PMII mampu merasuk cepat ke jantung mahasiswa baru tanpa kritik. Inilah rahasia umum kenapa PMII selalu menjadi pilihan utama para mahasiswa baru.
Tidak hanya promo ke-NU-an, tapi PMII memang masih menjunjung tradisi Nahdliyin. Tidak dipungkiri NU dikenal sebagai organisasi yang lebih berhaluan tradisionalis. Tetapi PMII mengklaim diri sebagai generasi Progresif kaum nahdliyin, tidak meninggalkan tradisi, namun juga tidak menolak modernitas. Ketika ada yang bicara nasionalis, PMII lebih nasionalis. Kenapa demikain? Singkat!
Saat nasionalis mengenal tanah air, kami kaum tradisionali dan abangan mengenal apa yang kami sebut sebagai tanah kelahiran. Yang jelas!!, ketika tanah kelahiran kami diacak acak, maka pedang, keris, tombak siap melayang melawan penyerang.
Itulah sepenggal kalimat yang jujur saya lupa darimana datangnya. Tetapi itu kalimat yang cukup bagi saya menggambarkan kesiapan PMII dalam membela tanah air.
Lanjut ke persoalan keilmuan, Kajian PMII sangat beragam. Bahkan kajian yang dilakukan sahabat-sahabati tidak terjebak hanya urusan ke Islaman saja, PMII juga membahas tentang ke Indonesiaan, kepemudaan, bahkan tak jaang pula yang paham dengan filsafat dan perekonomian dunia, tidak jarang pula dari mereka mengaku diri sebagai nabi, atau bahkan tuhan. Tentunya ini tidak dimaknai secara tekstual.
Sekedar menyederhanakan pembahasan umum tentang kaum pergeraka. Kampus STAIN Purwokerto, sebagai salah satu basis PMII terbesar di Purwokerto sampai detik ini masih menguasai perpolitikan kampus. Melalui dua senjata perang partai PAKEM dan PD2B, PMII mendominasi dalam setiap proses Pemilu Mahasiswa. Padahal, gerakan ekstra kampus tidak hanya PMII, tapi ada beberapa organ islam yang ada dikampus tetapi belum bisa berbicara banyak.
Ketika diawal disampaikan sebuah kalimat miring bahwa PMII hanya menimbulkan mahasiswa berwatak birokrat, tentu disini perlu dikaji ulang. Sebagai organisasi besar yang memegang teguh nilai Aswaja, dan Nilai dasar pergerakan tentu hal tersebut dengan mudah dapat dinetralisir. keduanya mengandung nilai nilai ketuhanan, toleransi serta keberpihakan terhadap kaum mustad’afin tentunya tidak akan menimbulkan hal yang dikhawatirkan.
Tidak berhenti disitu dalam proses kegiatan intelektual dikampus, PMII selalu hadir. Memang tidak secaara strukturnya tetapi secara otomatis tanpa harus disuruh, sahabat-sahabati pergerakan siap mendatangi forum ilmiah yang diadakan. Hal ini sudah wajar di PMII, sebab organisasi ini tidak membatasi kegiatan, bacaan, kajian bagi anggotanya. hal Ini bertujuan untuk menciptakan kader ulul albab.
Singkatnya proses pembelajaran di PMII sampai hari ini masih sangat dibutuhkan, dan ketika ada tesis yang mengungkapkan bahwa PMII tidak berguna, merupakan isapan tanpa dasar. Salam pergerakan!!! [sahabat Ardha D.R.]

0 komentar:
Posting Komentar