[Puisi] Rokok - Itmamul Wafa


Rokok

Sebatang yang ditinggalkan asap, terpisah dari rokok-rokok dalam bungkus, asap yang tidak bisa selalu ada dalam tubuh terbang dan menyatu dengan udara nafasmu sementara rokok-rokok dalam bungkus berjejer dan berbaris bagai menanti duka dan bercerita tentang kenangan bersama.

Tubuhnya terbakar dan mengabu, oleh api cinta yang dulu sempurna dan kini hanya sebagai bara merah yang tak sama dengan kehangatan rasa dan cinta.

Bibir hitam yang menghisap ujung ingin jujur pada nafasmu dan sang rokok. Bahwa rindu merapal do’a dan menjadi siksa yang seolah bercumbu dengan sang rokok.

Sementara asbak di atas meja memakan abu-abu yang kau muntahkan pada dirinya sendiri dan sepi. Pahit abu yang terasa kini tak bisa dinikmati seperti halnya cinta yang tertingal pada hati yang terdiam.

Purwokerto, 2014

CONVERSATION

0 komentar:

Back
to top